Saatnya PMII Membaca Sistem Demokrasi Sesuai dengan Zamannya

 

Oleh : Fatimatuz Zahro, S.Sos


OPINI, SLOW80S - Pesatnya sebuah perkembangan dengan dinamika yang sangat menyenangkan berakibat terhadap Kader PMII yang sudah lama terkurung dengan kebebasannya, sehingga mereka lupa untuk membaca peluang kedinamisan yang ditawarkan oleh zaman. Mereka terlelap dalam pelukan keadaan dan rasa nyaman dalam senderan sejarah aktivis 98 yang sudah menorehkan sejarah sakral, yaitu mengawal runtuhnya masa diktator menuju reformasi, kejadian itu yang mereka dewakan se akan surga sudah mereka gengagam se akan kebesaran dan kejayaan adalah segala-galanya bagi dirinya. 


Nilai Dasar Pergerakan (NDP) sebagai landasan bertindak dan berfikir sudah mentok sebagai wahana wisata otak saja, buku jauh dari tangannya dan sudah tergantikan dengan handphone sebagai sumber utamanya, kepedulian telah runtuh dalam hatinya, masa depannya sudah terjual dengan asmara dan permainan yang sangat menyenangkan dan membuat mereka akan cenderung ketagihan. Padahal kalau sedikit saja kita mau merenungkan perjuangan pada masa kader PMII dulu, mereka melakukan semua itu tidak untuk di sanjung oleh penerusnya apalagi ingin di dewakan, mereka berjuang tidak lain untuk memberi pintu agar kader-kader selanjutnya sudah bebas masuk ke negeri kecil tanpa harus luka batinnya, perih perasaannya, hilang jasadnya, terhapus jejak perjuangannya dengan ronta kepala busuk pada zamannya, sehingga bisa menghiasinya dengan gagasan-gagasan yang menjadikan negeri ini mewah dan megah.


Hemat saya untuk memberikan penafsiran yang mereka lakukan dulu adalah tantangan bagi kita sebagai kader di era melenial, mampukah kita memberikan sumbangsih besar untuk Bangsa Indonesia seperti mereka? sesuai zaman dimana kita berjuang. Perjuangan mereka dalam menghujat pemerintah untuk menurunkan rezim tidak harus kita implementasikan sama untuk dimasa kita sekarang.  Namun kita harus memahami subtansinya saja, bahwa kader PMII di era melenial harus mampu memberikan perubahan dengan tantangan di masa sekarang. Kader PMII harus menyapa peluang dan ikut dinamis selayaknya matahari yang terus berputar mengelilingi bumi sesuai garis katulistiwa dan waktunya. 


Mahasiswa seyogyanya memang harus kritis dan berintelektual tinggi, tetap harus mengawal gonjang-ganjing drama di negeri ini, apalagi seorang kader PMII yang arah gerakan nya adalah berbakti pada masyarakat dan mengawasi kebijakan penguasa. Penulis bukan berarti memangkas nalar kritis kader PMII, bukan juga berarti memotong taringnya, tapi arah gerakan PMII sudah mulai Lost Generation. Fauzan Alfas dalam bukunya “Dalam Simpul-Simpul Sejarah Perjuangan” mengatakan PMII secara organisatoris dan fungsional menempatkan pada tempat yang tidak sembarangan. Artinya secara keseluruhan PMII bisa merupakan salah satu dari elite di dalam masyarakat bukan organisasi elite dengan massa. Kader PMII harus mengabdi pada masyarakat dengan menciptakan suatu hal yang istemewa dalam masyarakat, harus turun dan menciptakan gerakan cerdas masyarakat, memeberikan perkembangan teknologi yang sudah di olah menjadi gagasan keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat.

Kecenderungan PMII sebagai organisasi elite dengan massa menjadikan sebagian tokoh-tokoh PMII dalam moment-moment tertentu atau dalam menanggapi issue-issue tertentu cenderung mengerakkan masa bukan inovasi untuk menjawab keadaan itu. Selaras dengan pandangan bahwa PMII adalah gerakan elite masyarakat maka secara institusional tidak perlu besar, tapi individu-individu di dalamnya harus besar dan berkualitas, individu yang memiliki kualitas Ulul Albab. 


Hal seperti ini yang belum terlihat apalagi terbaca di tubuh PMII yang besar ini, sehingga kader-kader nya tidak dapat ditawarkan kualitasnya di masyarakat sesuai kebutuhan zaman yang terus berkembang pada masa kini. Masyarakat sekarang masih dalam kungkungan kesenjangan ekonomi, apalagi pasca pandemi Covid-19, kader PMII harusnya peka sosial, ciptakan gerakan ekonomi kerakyatan, mulai dari mikro sampai pada makro. Peka sosial tidak melulu tentang analisis kebijakan melalui demonstrasi tapi menciptakan inovasi, memberikan apa yang dibutuhkan masyarakat. Ekonomi sudah ibarat urat nadi bangsa ini dan pemerintah sudah serentak mendeklarasikan kenaikan ekonomi Indonesia, hal ini dibuktikan dengan G20 yang sedang gencar di suarakan di Indonesia agar mampu bersaing dengan Negara-negara tetangga. Zaman sudah semuanya beralih dari suasana nyata menuju maya (online) teknologi makin berkembang dinamis secepat mungkin sehingga elektronik digital sudah banyak beroprasi di lembaga-lembaga keuangan, ikut serta memberikan warna baru pada wajah ekonomi. Salah satu dari elektronik digital yang seharusnya sudah mulai di raba oleh kader PMII adalah fintech menyediakan layanan keuangan berbasis online.


Namun terlepas dari semua itu yang perlu kita baca selaku kader PMII adalah berkembang nya zaman dengan digital modern justru juga banyak melahirkan konflik dan dinamika yang tidak mencerminkan bahwa bangsa ini adalah BHINNEKA TUNGGAL IKA. Sosial media menjadi titik utama untuk mengobrak abrik pertikaian antar sesama rakyat, lebih-lebih agama sebagai metode cepat menjual elite politik dan mengobrak ngabrik habis hingga mayarakat yang ada di pedesaan. Herannya organisasi sebesar ini tak lagi memberikan kenyamanan dan ketentraman bahkan kesejahteraan pada masyarakat, mereka hanya mampu berhenti pada wacana saja, tindakan membela suatu kalangan yang diangkat sebagai kaum mustatafin hanya sebagai slogan agar mampu menutup kebusukan menjadi citra yang terus manis dan indah dilihat. Sadar atau tidak sistem Demokrasi hanya menjadi Lukisan Telanjang dihadapan Pemimpin, Mereka Lupa bahwa Masyarakat butuh pengayoman dan kenyamanan tanpa harus dirugikan, mereka hanya dimanfaatkan tanpa imbalan yang bermanfaat juga untuk mereka.

 

Kader PMII masa kini sudah lupa akan satu hal! bahwa mereka harus menjadi masyarakat yang benar-benar mengakar di hatinya untuk merasakan apa yang terjadi di bawah, mereka tidak mampu untuk terjun, bisanya hanya menanti kabar dari kasak kusuk media. Padahal kalau kita bicara media saat ini sangat jauh dari norma dan asusila yang benar, sebab media terutama media online hanya memburu popularitas dan iklan samata, begitu juga kader PMII yang di berikan emban pada structural tubuh PMII, mereka sudah mulai terlena dengan kursi jabatan yang ia duduki, mereka berfikir bagaimana mencari link atau jejaring yang mampu mengangkat mereka jauh lebih besar, sehingga nama dan sosoknya mampu di kenang di masa datang dan menjadikan suatu kebanggan! Dari hal inilah mereka lupa terhadap potensi kader di bawah nya, apalagi memikirkan masyarakat, memikirkan perekonomian masyarakat dan lain sebagainya, justru yang ada pada masa sekarang Kader PMII hanya mementingkan diri masing-masing agar mampu tegak dan tenar, kalau boleh saya berkomentar lebih terbuka lagi, PMII sudah dijadikan sebaga rumah pergerakan elite politik semata untuk medapat suara se banyak-banyak nya, lebih-lebih membela sesuatu dengan Mahar yang menggiurkan, sadar atau tidak kader PMII yang masih berproses di komisariat sudah diajarkan bagaimana berpolitik hingga Turun kejalan untuk menyuarakan kebenaran, katanya.


Sadar atau tidak PMII sudah jauh dari harapan Pendirinya, hemat saya PMII sebesar ini tidak harus bergerak dan terus memandang jabatan ke depan agar mampu duduk dengan gagah di kursi pemeritahan bangsa ini, akan tetapi kader PMII harus berada di semua tempat sesuai potensi mereka agar mampu memberikan kontribusi besar bagi bangsa, tidak hanya lewat duduk dengan merebutkan satu kursi jabatan, mereka harus di ajarkan dan di didik untuk memberikan pelayanan yang mampu mensejahterahkan masyarakat sesuai dengan potensi yang di miliki kader PMII. Contoh, jika terdapat kader dari fakultas kedokteran, dimanapun mereka berada, maka kader ini di tuntut harus memberikan pelayanan pengobatan secara gratis kepada masyrakat yang tidak mampu. Agar ilmu dan pengetahuan mereka bermanfaat dunia dan akhirat. Kader PMII saatnya berlari seiring dengan kedinamisan zaman. Mengawali gerakannya dengan inovasi sesuai potensi dan bakat yang mereka miliki.