Ketiak Sang Penguasa & Pantat Diktator

Ilustrasi Diktator Idiot. (Sumber Foto: Pinterest)


Oleh : Slow Ahmadi Neja


OPINI, SLOW80S - Seringkali kita mendengar bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tahu caranya menakar keadilan dan meletakkan kepentingan dan hajat banyak orang diatas kepentingan pribadi. Tetapi seiring berjalannya waktu dengan segala bentuk kedinamisannya banyak pemimpin di negeri ini yang lupa pada identitas dirinya sebagai pemimpin, bahkan kilas balik sejarah kediktatoran hanya menjadi arus balik petilasan pemikiran, bahkan mencium ketiak sang penguasa menjadi ritual yang tidak bisa ditinggalkan guna untuk memuluskan segala rencana yang telah dibangun sebelumnya. 


Lebih jauh menafsirkan tentang sosok pemimpin, ada hal yang lebih spesifik untuk dibahas dan dikaji ulang, bagaimana peran seorang pemimpin mampu memimpin dengan bijak dan bajik. Adakalanya manusia sering lupa bagaimana dulunya ia diciptakan dan untuk apa diciptakan? Namun pada dimensi ini akan terjadi pergulatan argumentasi yang dibangun untuk menjadi dasar pembelaan pada sikap, perilaku dan tindakan. Tidak heran jika seorang pemimpin bersikap semena-mena pada bawahannya, menindas orang yang tidak sepemahaman, bahkan teman sejawat yang tidak bisa di ajak kompromi akan cendrung dijauhi dan dimusuhi, maka tipe pemimpin semacam ini sering kali menjadi hakim atas orang lain dan menjadi jaksa atas dirinya sendiri. Hal ini dilakukan karena nilai kesadaran dalam memimpin masih jauh lebih rendah dibawah egonya.


Seorang pemimpin tidak selayaknya berperilaku semena-mena, gemar memerintah dan sering menyalahkan kinerja bawahannya, apalagi dalam ruang lingkup lembaga yang bernuansa pendidikan. Potret dari lembaga pendidikan sebagai lembaga pendidik harus selaras dengan Patrap Triloka dengan poin memberi teladan dan membangun kemauan serta mendukung dari belakang. Seorang pemimpin sangat jauh berbeda dengan pimpinan yang memiliki banyak pekerja atau buruh yang dibayar atau diberi upah sesuai dengan kinerja yang dilakukan pada suatu perusahaan yang ia pimpin. 


Seorang pemimpin idealnya memiliki jiwa seluas samudera, daya berpikir yang jernih, sifat yang bijak dan bajik, kemurahan hati serta mampu menakar dan menimbang segala persolaan tepat sesuai dengan tupoksinya. Sehingga dalam prakteknya, akan mendahulukan kesejahteraan, kesolidan, keharmonisan seluruh anggota yang ia pimpin dari pada meletakkan kepentingan diri sendiri di atas kepentingan banyak orang. Pada sisi yang lain, pemimpin seringkali dilihat dari kemampuan berbicara (public speaking) yang bagus, padahal menjadi seorang pemimpin tidak menjadi keharusan untuk memiliki kemampuan berbicara yang lihai, seolah-olah warna kuning yang mengkilap di dasar kali adalah serbuk emas.


Pemimpin dan pimpinan hanya berbeda tipis. Sudah tak terhitung berapa banyak pemimpin di negeri ini yang serasa menjadi pimpinan, bersikap otoriter, semau-maunya sendiri tanpa mau tahu bagaimana keadaan yang sebenarnya terjadi di bawah. Hal ini seringkali kita jumpai tidak hanya pada Jabatan Pemimpin sebagai Kepala Negara, Kepala Daerah dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, bahkan sebagian besar dari kita akan melihat bagaimana instansi lembaga pendidikan yang katanya adalah lembaga pendidik tapi berbaur menjadi pembidik yang berkedok atas nama pendidikan tetapi berbalut kepentingan! tidak heran jika banyak dari kalangan teman-teman yang mengatakan, sebenarnya moralitas dalam dunia pendidikan telah dihancurkan oleh pendidik yang tidak mengerti esensi dari nilai pendidikan itu sendiri. 


Lantas bagaimana seorang pemimpin akan selalu berpikir bagaimana pengikutnya dapat hidup layak, tentram, sejahtera dan bahagia, kalau sejatinya pemimpin itu telah dibutakan dengan hasrat ingin menguasai. Maka tidak salah ketika pepatah tua Sisilia mengatakan kenikmatan memerintah adalah lebih manis daripada kenikmatan senggama. Tidak heran bila dengan tahta dan kekuasaan kata pemimpin dalam sekejap berbalik arah menjadi pimpinan.


"Satu kepal kekuasaan adalah sepuluh kali lebih berharga daripada satu truk hak." Kalimat dari machiavelli ini menandakan bahwa kesempatan dan peluang akan selalu datang bagi seorang pemimpin yang sedang berkuasa, apalagi pemimpin yang haus akan kuasa serta pengakuan diri, sehingga ia lupa pada otoritas tertinggi dari pemimpin itu apa? Semua orang bisa berbicara, tapi tidak semua orang mampu memahami apa yang ia bicarakan. Semua orang bermimpi, tapi tidak semua orang mampu menafsiri mimpinya sendiri. Semua orang bisa jadi pemimpin, tapi tidak semua orang mampu memimpin.


Jika jabatan, tahta dan kekuasaan yang dijadikan sebagai jalan untuk memenuhi hasrat, keinginan, kepuasan dengan menyempatkan diri ketika ada ruang, celah, peluang dan kesempatan untuk mengisi saku dan kantong di celananya, lalu bertindak semaunya, bersikap otoriter dan berwatak keras kepala, maka anda layak dikatakan sebagai Pemimpin Pantat Diktator. Seorang pemimpin memang tidak suci, tapi jangan mengambil kotoran untuk menciptakan najis, dan jangan coba-coba sesekali untuk berbohong! Sebab kebohongan pertama akan menjadi dasar kebohongan selanjutnya.